Friday, 24 February 2017

Palak Bengkerung, Wisata Religius Cerminan Toleransi Umat Beragama



 
#PesonaBumiSekundang
#AyoMenulisBengkulu

Penulis : Muhamad Daffa Tisyahri Putra
Asal Sekolah : SMA Negeri 1 Bengkulu Selatan

Indonesia adalah Negara di Asia Tenggara yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. Menurut Data Departemen Dalam Negeri Tahun 2004, Indonesia memiliki 17.504 buah pulau dengan jumlah penduduk sebanyak 237,424,363 pada sensus 2010. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Selain itu Indonesia terkenal dengan keanekaragamannya dimana Indonesia memiliki berbagai macam adat, istiadat, budaya, ras, bahasa, agama serta lebih dari 300 suku bangsa yang tersebar di setiap daerahnya sehingga Indonesia layak disebut dengan negara yang memiliki masyarakat majemuk.
Indonesia merupakan bangsa yang paling majemuk atau pluarlitas di dunia ini, fenomena ini merupakan suatu kenyataan yang tak terbantahkan karena hal tersebut telah menjadi bagian dari sejarah panjang perjalanan hidup bangsa Indonesia. Dinamika hidup berdampingan diantara perbedaan menjadi warna kehidupan tersendiri bagi perjalanan bangsa ini. Bhineka Tunggal Ika barangkali inilah konsep ideal dalam mempersatukan bengsa Indonesia dari berbagai sisi kehidupan dalam mengikat/penyatuan beragam bahasa, suku bangsa (etnis) dan agama.
Pada zaman Orde Baru, Masyarakat hidup seperti biasanya antar suku, ras, maupun antar agama hidup berdampingan walaupun banyak konflik yang sering terjadi namun pemerintahan pada era itu bertindak dengan cepat untuk menyelesaikan konflik-konflik yang berkaitan dengan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan).
Pada masa reformasi, kebebasan berpendapat diberikan akan tetapi sisi buruknya adalah hal ini dimanfaatkan dengan sewenang-wenang oleh pihak-pihak yang menyebarkan kebencian antar golongan sehingga menyebabkan konflik antar golongan khususnya antar kelompok umat beragama di Indonesia sehingga mencoreng Kebhinnekaan Indonesia. Beberapa konflik yang terjadi adalah koflik Ketapang (Desember 1998), Kupang (Desember, 1998), Ambon (1998-2004), Sampit (1999), Mataram (Januari, 2000), Poso (2003-2004), dan Sulawesi Barat (2004). Pada umumnya, semua konflik di atas dilatar belakangi oleh beberapa aspek, antara lain, faktor politik, ketegangan antar etnik, sentimen keagamaan, kesenjangan budaya dan kesenjangan ekonomi. Meskipun tidak semua konflik yang muncul berlatar belakang sentimen keagamaan, namun kebanyakan konflik yang terjadi selalu melibatkan simbol dan atribut keagamaan. Rumah ibadah seperti Masjid, Gereja, Vihara, dan lain-lain selalu menjadi sasaran utama untuk melampiaskan kemarahan ketika terjadinya konflik agama.
Menurut Samuel Hantington dalam bukunya The Clash of Civilizations and the Remaking of Word Order, konflik budaya (termasuk agama) adalah bentuk konflik baru yang akan mewarnai perjalanan hidup masyarakat modern setelah berakhirnya masa perang dingin. Menurutnya juga faktor ideologi, politik dan ekonomi tidak lagi menjadi faktor fundamental penyebab terjadinya konflik, namun benturan peradaban akan mewarnai fenomena kehidupan global. Lebih lanjut Hantington mengatakan bahwa agama merupakan faktor utama dalam perbedaan antara peradaban, yang juga berkaitan dengan sejarah, bahasa, budaya, dan tradisi.
Sejatinya agama memberikan pengaruh yang positif dalam kehidupan manusia secara kesuluruhan ditengah banyaknya konflik yang terjadi. Menurut Sugiharto (dalam Andito (ed), 1998: 29), minimal ada tiga tantangan yang dihadapi oleh agama. Pertama, dalam menghadapi persoalan kontemporer yang ditandai disorientasi nilai dan degradasi moralitas, maka agama ditantang untuk lebih tampil sebagai suara moral yang otentik. Kedua, siap atau tidak, agama harus menghadapi kecenderungan pluralisme, mengolahnya dalam kerangka teologi baru, dan mewujudkanya dalam aksi-aksi kerja sama plural. Ketiga, bila agama ingin berperan penting dalam situasi kemelut posmodern ia mesti tampil dengan cara apapun, sebagai pelopor perlawanan terhadap segala bentuk penindasan dan ketidak adilan, termasuk “ketidakadilan kognitif,” yang biasanya diciptakan antara lain justru oleh agama-agama itu sendiri.
Agama memiliki peran yang diharapkan dapat membantu manusia dalam menghadapi berbagai macam masalah termasuk konflik namun ini masih belum dapat dilaksanakan karena berbagai faktor (Sugiharto dalam Andito, 1998: 31-32): Pertama, kemelut dalam tubuh masing-masing agama sendiri sering kali memproyeksi keluar. Sikap agresif berlebihan terhadap pemeluk agama lain sering kali merupakan ungkapan yang tak disadari dari chaos dan ketegangan dalam tubuh agama itu sendiri. Kedua, paham tentang kemutlakan Tuhan –yang umumnya dianut oleh hampir semua agama besar- juga memudahkan orang untuk mengidentikkan kemutlakan itu dengan kemutlakan agamanya. Keyakinan macam ini, betapapun masuk akalnya, secara psikologis memudahkan orang untuk melegitimasi segala tindakan kekerasannya sebagai “dikehendaki oleh Tuhan.” Ketiga, keyakinan bahwa segala tindakan kekerasan terhadap agama lain akan diganjar pahala oleh Tuhan, tentu saja menyebabkan kekerasan terhadap umat yang beragama lain akan menjadi bagian dari keutamaan moral. Keempat, dengan naik daunnya posisi agama dalam konstelasi peradaban kini, agama pun menjadi rawan untuk ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan politik, ekonomi dan kultural kelompok-kelompok tertentu atau pribadi.
Kehidupan umat beragama (Interaksi atau hubungan antar kelompok umat beragama) adalah fenomena di dalam masyarakat yang sangat menarik untuk dikaji karena fenomena itu sudah langka akhir-akhir ini. Fenomena inilah yang penulis lihat di Kecamatan Air Nipis tepatnya di Desa Palak Bengkerung Kabupaten Bengkulu Selatan dimana terdapat suatu masyarakat yang hidup berdampingan walapun memiliki perbedaan yakni dalam segi kepercayaan atau agama (Islam dan Kristen). Mereka hidup berdampingan dan saling menyadari akan adanya perbedaan sehingga mereka hidup dengan bertoleransi bahkan dalam satu keluarga terdapat perbedaan agama (Islam dan Kristen). Sikap toleransi tersebut mereka tunjukkan sehingga terciptanya kehidupan yang relatif damai ketimbang wilayah-wilayah yang memiliki pluralitas agama di wilayah Indonesia lainnya.
Keakraban dan kedekatan antara umat Islam dan umat Kristen di Desa Palak Bengkerung ini adalah salah satu contoh sikap toleransi yang patut di teladani dan sangatlah menarik untuk dikaji. Dengan adanya kajian ini setidaknya kita dapat menemukan bagaimana pola interaksi antar pemeluk agama yang berbeda dalam hal ini adalah Islam dan Kristen dan bagaimana cara mereka dapat menjaga toleransi dengan adanya perbedaan di sekitar mereka. Lebih jauh lagi, dengan adanya kajian ini kita dapat mengetahui bagaimana kontribusi budaya sosial (budaya suku/etnis) yang sama-sama dianut oleh mereka (budaya Serawai) terhadap corak interaksi yang berlangsung serta dengan adanya kajian ini hendaknya kita bersama-sama mewujudkan Indonesia sebagai negara yang multikultural dimana arti multikultural sendiri menurut Lawrance Blum adalah meliputi pemahaman, apresiasi dan penilaian budaya seseorang, serta penghormatan dan keingintahuan tentang agama, budaya serta etnis orang lain. Untuk itulah penulis membuat essai yang berjudul “Palak Bengkerung, Wisata Religius Cerminan Toleransi Umat Beragama”

A. Deskripsi Desa Palak Bengkerung

a. Gambaran Umum

Secara Geografis desa Palak Bengkerung terletak di kecamatan Air Nipis kabupaten Bengkulu Selatan. Sebelum terjadi pemekaran kecamatan di kabupaten Bengkulu Selatan, desa Palak Bengkerung masuk dalam wilayah kecamatan Seginim dan menyatu dengan desa Suka Negeri, sejak tahun 2004 Palak Bengkerung menjadi sebuah desa definisif.
Secara administratif desa Palak Bengkerung memiliki batas wilayah sebelah timur: Sungai Bengkenang Besar, sebelah Selatan: Desa Tanjung Beringin, sebelah Barat: Hutan Lindung Bukit Ghiri dan sebelah Utara: Jembatan Air Nipis. Luas wilayah yang dijadikan tempat pemukiman penduduk kurang lebih seluas 3 km2, dengan profesi dominan penduduk adalah petani.
Sementara secara demografis penduduk yang mendiami desa Palak Bengkerung sebanyak 527 kepala keluarga (KK) dengan 2497 jiwa. Sebaran tempat tinggal antara masyarakat Islam dan Kristen tidak petak-petak tetapi membaur satu dengan yang lainnya. Secara lebih rinci sebaran penduduk desa Palak Bengkerung menurut agama yang dianut meliputi: Islam (laki-laki: 983, perempuan: 11670 dan Kristen (laki-laki; 162 dan perempuan: 185).

b. Sejarah Awal Masyarakat Palak Bengkerung

Penduduk Desa Palak Bengkerung merupakan penduduk yang berasal dari berbagai macam daerah di Bengkulu Selatan khususnya penduduk Kecamatan Pino dimana Perpindahan ini terjadi sebelum Indonesia merdeka. Mereka berpindah dengan tujuan untuk mencari lahan atau daerah yang subur agar dapat ditanami dengan tanaman makanan pokok yakni padi. Perpindahan tersebut didukung pula dengan sifat masyarakat yang masih sering berpindah-pindah (nomaden).
Dengan ditemukannya daerah subur yang cocok dijadikan lahan pertanian, Seginim (termasuk Desa Palak Bengkerung) dikenal sebagai daerah penghasil beras terbesar di Kabupaten Bengkulu Selatan dari dahulu hingga sekarang.
Masyarakat yang berpindah ke Desa Palak Bengkerung merupakan masyarakat yang telah memeluk agama Islam sebagai kepercayaannya. Agama Kristen masuk ke Desa Palak Bengkerung pasca terjadinya peristiwa Gerakan 30 S PKI. Pada masa ini, masyarakat mulai mengalami degradasi atau penipisan pemahaman tentang agama ditambah lagi dengan datangnya musim kemarau yang panjang atau masyarakat Palak Bengkerung menyebutnya dengan “musim pecaklik” sehingga masyarakat yang mayoritas memiliki mata pencaharian sebagai petani mengalami gagal panen. Dengan adanya krisis ini membuat agama seperti halnya barang yang dijual dan digantikan dengan alat-alat pertanian, makanan, serta kebutuhan rumah tangga lainnya.
Pada saat itu hubungan antar kedua umat beragama (Islam dan Kristen) mengalami gejolak yang disebabkan oleh proses penyebaran agama Kristen yang dilakukan secara terang-terangan kepada masyarakat beragama sehingga membuat umat muslim Desa Palak Bengkerung marah. Tahun 1966 merupakan saksi bisu dari puncak kemarahan umat muslim terhadap penginjilan yang dilakukan di Desa Palak Bengkerung yang ditandai dengan dibakarnya Gereja Kristen Desa Palak Bengkerung.
Gejolak pada tahun 1966 tersebut merupakan titik awal dimulainya istilah Sasuduga yang kami ciptakan. Semenjak gejolak itu, Desa Palak Bengkerung mulai menciptakan trend positif yang dijaga dari tahun ke tahun. Tidak bisa di pungkiri hal ini tidaklah lepas dari keterlibatan masyarakat Islam dan Kristen dalam membina hubungan toleransi antaragama, juga keterlibatan pemerintah dalam hal ini pemerintah desa dalam memformulasi pola hubungan antaragama Islam dan Kristen di Palak Bengkerung.

B. Teladan Dari Palak Bengkerung
a. Hajatan
Hajatan adalah prosesi atau kegiatan yang dilakukan seseorang sebagai bukti bersyukur kepada Yang Maha Kuasa atas suatu berkah atau nikmat. Hajatan biasanya dilakukan dengan mengundang tetangga dan keluarga untuk berdoa serta makan bersama begitupun di Desa Palak Bengkerung. Prosesi Hajatan di Desa Palak Bengkerung bisa berupa aqiqah, bimbang, beijau adik sanak, syukuran dengan menyediakan makanan yang akan dibagikan atau dimakan bersama-sama dengan semua masyarakat tanpa memandang agama.
Teladan yang dapat diambil dari Desa Palak Bengkerung di kegiatan ini adalah bersyukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbagi terhadap sesama manusia, dan menguatkan tali silahturrahim.
b. Tradisi Pantauan
Sama halnya dengan pembahasan sebelumnya, tradisi pantauan adalah tradisi yang berkaitan dengan hajatan khususnya beijau adik sanak yang dimana jika di suatu rumah mengadakan hajatan, tetangga yang berada di depan rumah atau di samping rumah dengan kesadaran sendiri akan membantu dengan cara menjadikan rumahnya sebagai tempat untuk memasak makanan yang akan dimakan oleh tamu undangan. Namun, tetangga tersebut tidak melakukannya sendirian melainkan tetangga yang lain akan berkumpul untuk membantu baik berupa fisik (tenaga) maupun berupa materi (sembako). Mereka memasak bersama-sama di tempat tersebut dan mereka melakukannya tanpa memandang agama.
Teladan yang dapat diambil dari Desa Palak Bengkerung dalam kegiatan ini adalah gotong royong atau sikap saling tolong menolong yang dilakukan oleh masyarakat. Sikap tolong menolong adalah sikap yang akan mempermudah suatu pekerjaan karena dilakukan secara bersama-sama.

c. Ambik Aghian
Mayoritas mata pencaharian masyarakat Desa Palak Bengkerung adalah petani sehingga tak bisa di pungkiri jika Seginim (termasuk Desa Palak Bengkerung) merupakan penghasil beras terbesar di Kabupaten Bengkulu Selatan. Namun ada tradisi unik yang dilakukan oleh petani di Desa Palak Bengkerung yaitu jika salah satu dari mereka sedang mengalami sakit atau tidak bisa hadir ketika mereka merawat sawah, maka salah satu dari mereka akan mengambil pekerjaannya di sawah dan membantu seseorang yang tidak dapat hadir tersebut dalam merawat sawah. Dengan kesadaran yang tinggi seseorang yang tidak dapat hadir tersebut akan membalasnya di suatu hari atau bahkan dia akan melakukan hal yang sama ketika seseorang yang menolongnya mengalami sakit atau tak dapat hadir ke sawah tanpa memandang siapapun mereka dan apapun agam mereka.
Tradisi Ambik Aghian merupakan tradisi yang patut di contoh oleh daerah lainnya dalam menjaga kerukunan. Teladan dari Desa Palak Bengkerung dalam kegiatan ini tentunya adalah sikap saling tolong menolong dan juga sikap balas budi.

d. Struktur Pemerintahan
Palak Bengkerung merupakan Desa yang merupakan hasil pemekaran dari Desa Suka Negeri. Dengan adanya pemekaran ini, Desa Palak Bengkerung tentunya memiliki struktur pemerintahannya sendiri yang dipimpin oleh Kepala Desa. Siapa saja dapat masuk ke dalam pemerintahan tanpa memandang apa agama mereka. Penduduk yang beragama Kristen pun bisa memasuki struktur pemerintahan walaupun islam merupakan agama mayoritas disana asalkan memiliki kemampuan yang dapat diandalkan oleh Desa. Bahkan mereka yang beragama mayoritas pun kerap kali memilih mereka yang minoritas di daerah tersebut ketika pemilihan pengurus pemerintahan.
Teladan yang dapat diambil adalah dalam memilih pengurus pemerintahan haruslah dilihat berdasarkan aspek intelektualnya bukan berdasarkan latar belakang kehidupannya atau bahkan agamanya. Jadi mereka menjunjung tinggi nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan motto dari Republik Indonesia.

e. Hari Raya Umat Beragama
Setiap agama tentulah memiliki hari besar atau hari sucinya masing-masing, seperti Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha bagi umat muslim dan Hari Raya Natal serta Paskah bagi umat kristiani. Dengan adanya perbedaan ini, Desa Palak Bengkerung dituntut untuk menjaga stabilitas daerahnya ketika Hari Raya itu tiba. Masyarakat Palak Bengkerung memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya menjaga kerukunan, bertoleransi, serta menjaga kemajemukan penduduknya. Mereka saling hormat-menghormati ketika prosesi Hari Raya masing-masing agama dilaksanakan. Teladan yang dapat diambil adalah pentingnya bertoleransi antar umat beragama demi menciptakan kerukunan dan ketentraman suatu daerah.
Dari pernyataan-pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa teladan dari Desa Palak Bengkerung untuk menjaga kerukunan dan ketentraman antar umat beragama adalah bersyukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbagi terhadap sesama manusia, menguatkan tali silahturrahim, gotong royong atau sikap saling tolong menolong, sikap balas budi, menjunjung tinggi nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika, serta bertoleransi antar umat beragama. Hal itulah yang patut kita contoh demi terciptanya Indonesia yang multikultural dan terciptanya Sasuduga yang ditandai dengan bangkitnya semangat persatuan antar umat beragama di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Andito (ed). 1998. Atas Nama Agama: Wacana Agama dalam Dialog Bebas Konflik. Jakarta: Pustaka Hidayah.

Arraiyah, Hamdar,dkk. 2011.Agama Dalam Dimensi Sosial Dan Budaya Lokal Di Propinsi Jawa Tengah (makalah)

Geertz, Clifford. 1992. Kebudayaan dan Agama. Penj. Francisco Budi Hardiman. Yogyakarta: Kanisius.

Huberman, A. Michael & Miles B. Matthew. 1992. Analisis Data Kualitatif. Penj. Rohendi Rohidi. Jakarta: UI Press.

Huntington, Samuel P. 2003. Konflik Peradaban; Paradigma Dunia Pasca Perang Dingin. Yogyakarta: IRCiSoD.

Miles, Mathew B., & Huberman, A Micheal, 1992, Analisis Data Kualitatif; Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru, Penerj.
Tjetjep Rohendi Rohidi, UI Press, Jakarta.

Mulyadi, Yad dkk. 2013. Sosiologi SMA Kelas X. Jakarta: Yudhistira

Thadi, Robert. 2005. Satu Suku Dua Agama. (makalah)

Sugono, Dendy, dkk. 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Suprayogo, Imam dan Tabroni. 2001. Metodelogi Kajian Sosial-Agama. Bandung: Remaja Rosdakarya.

http://suaranuraniguru.wordpress.com/2011/11/29/pengaruh-kehidupan-beragama-terhadap-pendidikan-anak/

*Penulis menggunakan jaket cokelat saat di depan Gekisia Immanuel dan menggunakan baju garis-garis biru-putih-abu saat di Masjid Bilal bin Rabah.
 

Monday, 20 February 2017

Critical Thinking


Good Night Everyone!
I want to tell you about Critical Thinking. Critical Thinking? What is that? Such a food? Or else? Have you ever get a problem like conflict or other? And how can you go through this condition? Yes, the answer is use your mind! So Critical Thinking is the way you use your mind (thoughts) to solve problems. It's easy right? but did you know there is 7-habit in critical thinking? There are Truth Seeking, Open Minded, Use Logic, Organized, Confident, Question Things, Thoughtful

1. Truth Seeking

Someone who always want to know about the truth, so he/she always asking for the truth or maybe searching in the internet.

2. Open Minded

When your friend give his/her advice to you and you accept it that's open minded person.

3. Use Logic

Through the problem with your thought.

4. Organized

You have a to do list in your mind where is the most important to do and where is not and you do first where is the most important to do.

5. Confident

The condition that is you have a brave soul to bring your opinion to the public.

6. Question Things

I Believe so many question that you have deep in your heart and you must be shy to ask it to your friend or someone else. Delete it from yourself! You must be a brave man or woman to ask anything what you want to ask.

7. Thoughtful

Have you ever hearing your friends tell her/his story? And then you being a netral person or you give your solution based on the fact that we called as Objective?. If that is you so we can call you as Mr. or Mrs. Thoughtful. Thoughtful means that you be an adult person and when you get a problem or your friend's problem you must be easy going to face it and you find the solution easily.

Wednesday, 15 February 2017

What I Fear

Fear, yeah you know that is something you scared or something you believe that you can't do. So many people has something fear deep in their heart or their mind like a "I so scare if i can't be a Lawyear because it hard to be".

I've something i scared, i scare if i can't be a good person to the others. In my religion, a good person is useful to the others or give a benefit to the others. Let see on me now, i'm just a poor boy nobody love me mehehe *Just sing :3. Ok, I just a little dust in my school and i didn't give anything to my school. i have no award or something else. yeah sometimes i feel disappointed on myself. But i don't find the meaning of give up in my dictionary. In my dictionary is only "Come on, wake up! don't let your friend be better than you!". And yeah i feel want to try again and again. I Hope Allah swt will give me the best and i will find the brightly ways to reach my dream.

Daffa

Tuesday, 14 February 2017

What I Love From My Self

GOOD NIGHT EVERYONE!


Based on the last post, i am the lazy person and i have bad hobbies. In all my bad attitude, i've a good thing that i love it so much from myself that is have a good curious about culture. Yeah i love it so much, because who can show our cultures to the world except us. ^_^ i know that i didn't have knowledge so much about cultures but i still learning now, i still work so hard to know about this. And then i love that because i love Indonesia so much. #PesonaIndonesia

Friday, 10 February 2017

CHANGE

I've bad hobbies, that's too much playing game, watching anime, and reading manga. and the most of all is i love too much culture in other country specially Japanese so i forgetting my own culture. Because that, i wanna change my personality.

How can i change?
At first, i stop to download anime and stop reading manga. And then, i started to learn and loving History of Indonesia and Indonesian cultures specially South Bengkulu cultures (Serawai's culture). Then i tried to make some writing that is about Serawai's cultures. And then i learned English because with English i can show the world what is Indonesia and where is the most beautiful place in the world!

Thank you ^_^

SMART GOALS


Hello, I Wanna tell you what is my goals. I hope i can communicate in english to improve my knowledge and with english i want to show the world that i am from Indonesia. "Hello world, I'm Indonesian you know, the beautiful place in the world!, Come on visit us!". Yeah i want to show the world that Indonesia have so many cultures and then i wanna they know that the beautiful place in the world is my country, Indonesia.

How to get it?
First, i want to do 15 times conversation in a day with friends or anyone who can speak in english fluently.
Second, listening music which use english lyric and find the meaning of new word in that music
Third, sse social media to communicate with friend in other country with english.
fourth, playing game adventure because adventure game have so many quest in English.
fifth, watching TV or film that use english dub or english sub.

Thank you ^_^

Sunday, 5 February 2017

Program Pembelajaran Komunitas Bahasa Inggris di Bengkulu Selatan

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Sebelumnya saya sebagai penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak H. Dirwan Mahmud selaku Bupati Bengkulu Selatan, Pemkab Bengkulu Selatan, dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti Pilot Project Program Pembelajaran Komunitas Bahasa Inggris (PPKBI) di Kabupaten Bengkulu Selatan yang bekerja sama dengan Total Mind Learning (TML).

Dewasa ini, kemajuan teknologi semakin bertumbuh pesat tanpa terbendung. Banyak penemuan-penemuan baru yang diciptakan untuk membantu manusia dalam mempermudah pekerjaannya salah satunya adalah smartphone, inilah yang disebut dengan era globalisasi. Globalisasi berasal dari kata global yang diberi imbuhan -isasi yang memiliki arti proses menuju global. Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia globalisasi adalah proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Era globalisasi ditandai dengan adanya kemajuan infrastruktur di bidang teknologi dan informasi. Dengan adanya era globalisasi, Pasar Bebas tidak bisa dihindarkan lagi dimana kita diharuskan memiliki mental siap bersaing dalam segala bidang dari negara-negara lain di dunia ini. Dalam hal ini, generasi muda tentunya menjadi harapan suatu bangsa yang dapat menjadi "prajuritnya" dalam menghadapi persaingan global namun tentulah generasi tersebut harus memiliki "bekal" yang sangat banyak termasuk mental siap bersaing. Disinilah peran pemerintah dalam menghadapi persaingan global yakni mempersiapkan generasi muda dengan bekal-bekal yang akan digunakan untuk menghadapi persaingan global termasuk salah satunya adalah bekal Bahasa khususnya bekal Bahasa Inggris yang dimana menjadi Bahasa Internasional saat ini. Hal inilah yang sedang dipersiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan yang bekerja sama dengan Total Mind Learning, Program Pembelajaran Komunitas Bahasa Inggris (PPKBI) sebagai solusinya.

Program Pembelajaran Komunitas Bahasa Inggris (PPKBI) adalah program Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan yang bekerjasama dengan Total Mind Learning (TML) yang dipergunakan untuk menciptakan generasi-generasi Bengkulu Selatan yang berkualitas yang akan dipersiapkan untuk menghadapi persaingan global demi terwujudnya Bengkulu Selatan EMAS (Elok, Aman, dan Sejahtera) serta menjadikan Bengkulu Selatan sebagai Desa Bahasa dimana Bengkulu Selatan akan menjadi pusat atau panutan pembelajaran Bahasa Inggris terbesar di Provinsi Bengkulu, di Sumatera, atau bahkan di Indonesia.

Program Pembelajaran Komunitas Bahasa Inggris (PPKBI) yang bekerja sama dengan Total Mind Learning (TML) ini memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh program lainnya. Yang pertama, program ini memiliki seleksi yang sangat ketat yaitu seleksi menulis (Tes Psikologi dan Tes Bahasa Inggris) dan seleksi wawancara dalam Bahasa Inggris dari ratusan siswa SMA sederajat yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang sangat baik di seluruh Kabupaten Bengkulu Selatan. Kedua, Program ini dibimbing oleh Instruktur Bahasa Inggris yang sangat berpengalaman dan memiliki sertifikat Teaching English to Speakers of Other Languages (TESOL) atau memiliki kemampuan berbahasa tidak hanya Bahasa Inggris melainkan dua bahasa atau lebih dari dua bahasa internasional baik itu Inggris, Perancis, Jerman, China, Jepang, dll. Ketiga, program ini tidak memiliki cara pembelajaran yang mainstream seperti halnya mempelajari formula dari grammar melainkan menggunakan pembelajaran melalui conversation yang dimana setiap siswanya akan dilatih untuk terbiasa mendengarkan dan menggunakan Bahasa Inggris setiap hari bahkan bermimpi menggunakan Bahasa Inggris. Keempat, program ini menggunakan kurikulum yang berbeda dari kurikulum yang biasa di pakai di Indonesia yaitu kurikulum Cambridge, UK (Cambridge Curriculum). Kelima, program ini menggunakan metode Suggestopedia yakni metode terbaik dalam pembelajaran Bahasa Inggris yang dilakukan dengan memberikan Suggest atau sugesti kepada siswa agar dapat menerima pelajaran dengan nyaman dan rileks sehingga konsentrasi siswa meningkat dalam menerima pelajaran. Keenam, program ini menerapkan sistem belajar terjun ke masyarakat dimana siswa akan diajak untuk melakukan field trip atau observasi lapangan untuk mencari inspirasi dalam menulis atau membuat project. Ketujuh, program ini menjanjikan kesempatan magang untuk siswanya di perusahaan lokal maupun internasional atau Homestay di rumah keluarga asing guna melatih siswanya agar terbiasa menggunakan Bahasa Inggris di kehidupan sehari-hari. Kedelapan, program ini akan memberikan sertifikat resmi dari Total Mind Learning dan Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan untuk kepada siapa saja yang berhasil lulus dalam pembelajaran Bahasa Inggris di PPKBI yang dimana sertifikat itu dapat digunakan untuk mendaftar di Universitas pilihan baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Dari pernyataan diatas, penulis menyimpulkan bahwa Program Pembelajaran Komunitas Bahasa Inggris (PPKBI) adalah program yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan yang bekerjasama dengan Total Mind Learning untuk menciptakan generasi yang akan dipersiapkan untuk menghadapi persaingan global dan juga program ini dibuat untuk memberikan pengalaman kepada generasi muda Bengkulu Selatan dalam bersosialisasi menggunakan Bahasa Inggris untuk menghadapi masa depan karena seperti apa yang dikatakan Marcus Tullius Cicero dalam bukunya yang berjudul De Oratore, historia est magistra vitae yang artinya pengalaman adalah guru kehidupan. Terimakasih. 

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Manna, 5 Febuari 2017



M. Daffa Tisyahri Putra